Pages

Pages - Menu

3.21.2012

Terlalu Lebaykah atau tidak cara Indonesia menanggapi wabah TomCat ?

 Duh... Tomcat Mulai Serang Sidoarjo

Serangga tomcat yang menyerbu Surabaya sekarang berpotensi Kejadian Luar Biasa (KLB). Hal ini dipicu semakin meningkatnya jumlah korban dan semakin luasnya wilayah yang terserang serangga beracun tersebut. Demikian disampaikan Teguh Riyanto, Koordinator Pemberantasan Serangga dan Ulat Bulu dari Dinas Pertanian (Dsipertan) Pemkot Surabaya, Rabu (21/3). 
 
Saat ini, serangga tomcat sudah menyerang kawasan di 40 kelurahan di Surabaya (sebagai perbandingan, total kelurahan di Surabaya 163). Korbannya pun terus bertambah, data terakhir dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Pemkot Surabaya 149 orang. ”Dengan kondisi seperti sekarang, peningkatan jumlah korban dan semakin meluasnya cakupan wilayah, maka Surabaya berpotensi KLB tomcat,”katanya, Rabu (21/3).
Dia menambahkan, jumlah korban ini merupakan fenomena gunung es, karena korban 149 orang  itu merupakan korban yang terdata di rumah sakit pemerintah, angka itu tidak termasuk korban yang dirawat di rumah sakit swasta. ”Jumlah korban itu yang tampak di permukaan, bisa saja korbannya jauh lebih banyak dari itu,”ungkapnya.


Teguh melanjutkan, selama ini pembasmian serangga tomcat di Surabaya tidak terlalu efektif. Karena masih meluasnya wilayah yang teserang serangga tersebut. Sehingga  pihaknya berharap warga lebih proaktif mencegah serangan dan penanganan ketika sudah terserang ”Jika dilakukan pembasmian saja tidak begitu efektif, butuh kesadaran dan proaktif masyarakat untuk mencegahnya,”paparnya.
Namun, Teguh menegaskan bahwa persyaratan suatu wilayah bisa ditetapkan menjadi KLB sudah ada aturanya dan yang berwenang menetapkan adalah kementrian kesehatan. ”Wewenang penetapan kondisi KLB itu ada pada dinas kesehatan dan sudah ada aturanya,” jelasnya.

Kabid Pertanian dan Kehutanan pada Dispertan Surabaya, Alexander S Siahaya menambahkan, penanganan tomcat lebih sulit dibandingkan penangan ulat bulu, karena serangga ini bisa tinggal di mana saja, misalnya, di air, udara, dan rumput. ”Serangga ini sulit dideteksi karena bisa muncul dari mana saja, tidak sepeti ulat bulu yang hanya tinggal di pohon,” jelasnya.
Jika ada tomcat, katanya, warga jangan mematikan dengan tangan melainkan dengan alat. Karena cairan tomcat berbahaya jika terkena ke bagian  anggota tubuh. Bahkan jika terkena percikan atau gigitan serangga itu, maka harus segera dibasuh dengan air, jika ada gejala terkena infeksi, maka harus segera dioleskan salep Asyclovir 5%. ”Kalau dibiarkan bisa bernanah,” katanya. 

Sedangkan, Kepala Dinkes Surabaya, dr Esty Martiana Rachmie mengatakan untuk saat ini seranggan tomcat belum bisa masuk status KLB. ”Bisa dipastikan serangan serangga tomcat tidak akan mengakibatkan kematian, sebenarnya serangga ini sudah ada dari dulu, meningkatnya serangga tomcat karena rusaknya ekosistem lingkungan terkait rantai makananya, jadi ini juga bukan penyakit menular yang mewabah besar-besaran,” ungkapnya.

Data dari Dinkes Surabaya, tercatat tiga teratas kawasan kasus serangga tomcat di Surabaya. Daerah Putat Jaya ada 30 orang yang menjadi korban. Kawasan Kenjeran 24 orang. Dan yang terakhir kawasan Siwalankerto sebanyak 23 orang. 

Data terakhir, korban serangga tomcat ada skitar 149 orang. Ini dilaporkan oleh 16 Puskesmas di Surabaya. Sedangkan untuk daerah yang lain, baru masuk laporan dari Gresik dan Sidoarjo. ”Untuk daerah Gresik dan Sidoarjo, laporanya baru saja masuk, namun mereka tidak melaporkan jumlah korban, terkait hal ini kebanyakan dari korban serangga tomcat lebih memilih mengobati sendiri dari pada membawa ke pusat pelayanan kesehatan seperti Puskesmas,” tambahnya.

”Hasil ini kami dapatkan dari pengamatan sejak awal Maret, jadi kemungkinan ada beberapa pasien tersebut sudah sembuh, karena ini hanya alergi kulit biasa, sangat tidak benar jika ada media yang memberitakan bahwa cairan hemolifa yang terkandung dalam tubuh tomcat, kadarnya 13 kali lebih kuat dari bisa cobra, dan saya kira hal itu malah akan menimbulkan keresahan masyarakat saja” tandasnya.
Sementara itu, Kepala Dinkes Pemprov Jawa Timur, Budi Rahaju juga mengatakan hal yang sama, wabah serangga tomcat belum bisa masuk status KLB karena tidak masuk persyaratan untuk masuk status tersebut. “Untuk masuk status KLB, jika sebuah wabah meningkatnya secara derastis dan akibat yang ditimbulkan dari penyakit atau wabah tersebut mengancam nyawa,” ungkap Budi Rahaju.
“Serangan serangga tomcat memang cukup menghebohkan, dengan banyaknya pemberitaan berbagai media terkait wabah tersebut, saya sangat berterima kasih karena dengan berita-berita tersebut, masyarakat bisa lebih waspada terhadap serangga tomcat,” ujarnya.
Selain menyerang Surabaya, Sidoarjo, dan Gresik, serangga tomcat juga menyerang beberapa kabupaten di Jatim, seperti Jember dan Situbondo. 

Jasa Pest Control Laris
Maraknya serangan Tomcat membuat jasa pest control mengalami peningkatan permintaan sampai 60 persen. CV Haknusa Tapekon Raya, satu diantara perusahaan pengendali hama di Surabaya mengaku sejak dua minggu terakhir mengalami peningkatan permintaan pembasmian hama sebanyak 60 persen, khusus untuk penanganan tomcat saja.

Haksini Arifin Lasahido, pemilik CV Haknusa Tapekon Raya mengatakan dalam dua minggu ini, ada 76 klien yang khusus meminta pembasmian tomcat. Kebanyakan adalah lingkungan perumahan elit, seperti di Graha Family, Damo Hills, dan Pakuwon City. Bahkan Selasa (20/3) saja, kata Haksini, pihaknya menerima 12 permintaan untuk membasmi tomcat di sejumlah wilayah Surabaya.

“Kebanyakan klien kita sudah mengidentifikasi serangga itu karena tahu lewat internet atau broadcast BBM (Blackberry Messenger). Lalu mereka panggil kita. Setelah kita teliti, hampir semuanya memang tomcat,” kata dia.

Berbeda dengan serangga biasa, penanganan tomcat dilakukan dengan menyemprot insektisida khusus. “Dalam kontrak, kami berjanji mengurangi populasinya, bukan membasminya habis. Yang penting tidak mengganggu manusia,” kata dia.

Menurut Haksini, permintaan untuk menangani Tomcat bersifat musiman, terutama pada bulan Maret dan April. Ini juga terjadi tahun lalu tapi tidak separah tahun ini.
Hal yang sama juga diungkap Merry Christy, admin Liberro Pest Management. Meskipun tidak sebanyak permintaan Haknusa Tapekon Raya, dia mengaku ada beberapa permintaan untuk menangani Tomcat di wilayah Tanjung Perak. “Biasanya kita semprot lalu populasinya menurun,” kata dia.m1, m7, pur

KENAPA BERNAMA TOMCAT?
SERANGGA tomcat belakangan menghebohkan masyarakat karena menyerang warga Surabaya dan sebagian daerah di Jatim. Tapi di balik persoalan tersebut, ada hal lain yang cukup menarik, yakni soal nama. Mengapa diberi nama tomcat?
Guru Besar Ilmu Serangga dari Institut Pertanian Bogor (IPB), Aunu Rauf, mengungkapkan bahwa serangga tomcat adalah serangga yang tak asing bagi masyarakat Indonesia. Di beberapa wilayah Indonesia, serangga tomcat sering kali disebut semut kanai atau semut kayap. Menurut Aunu, kumbang ini sejatinya merupakan spesies kumbang Paederus fuscipes.
"Masyarakat menyebutnya tomcat, mungkin karena bentuknya sepintas seperti pesawat tempur F-14 Tomcat," ungkap Aunu, Selasa (20/3).
Nama tomcat sendiri sebenarnya di luar negeri merupakan merek produk pengontrol populasi hewan pengerat dan produk lem semut. Tomcat juga merupakan produk pestisida. Kumbang tomcat dalam bahasa Inggris juga sering disebut rove beetle.
Ciri-ciri serangga ini adalah memiliki kepala warna hitam, dada dan perut berwarna oranye, dan sayap kebiruan. Warna mencolok berfungsi sebagai peringatan bagi predatornya, bahwa serangga ini punya racun. Ukurannya sekitar 7-10 mm.
Tomcat biasa hidup di persawahan. Pada siang hari, serangga ini biasa terbang di tanaman padi untuk mencari mangsa berupa wereng dan hama padi lainnya. “Jadi, sebetulnya kumbang tomcat ini atau Paederus fuscipes adalah serangga yang bermanfaat bagi petani karena membantu mengendalikan hama-hama padi,” jelas Aunu.
Pada malam hari, serangga ini cenderung tertarik pada cahaya lampu. Hal inilah yang menurut Aunu memicu masuknya tomcat ke rumah atau apartemen warga di Surabaya.
Korban serangan tomcat mengalami dermatitis, kulitnya seperti melepuh, mengeluarkan cairan, dan merasa gatal. Adapun dermatitis yang dialami warga diakibatkan oleh racun paederin yang diproduksi serangga dengan bantuan bakteri. Racun akan keluar saat serangga dalam bahaya atau dipencet.kcm

Ternyata terlalu Alay, kita boleh waspada, tapi  jangan terlalu over. tapi jgn takabur juga y.... anggap saja ini ujian dari yang diatas agar kita lebih bersyukur akan pemberiannya....
Bila ada masalah baru mengingatnya.... tetapi saat senang tidak ingat padanya...

http://meongg9.blogspot.com/

No comments:

Post a Comment