Setelah melihat latar belakang kehidupan tiga tokoh utamanya, lalu disuguhkan dengan kerasnya kehidupan Dimas sebagai seorang waria untuk kelanjutan hidup sangkeluarganya, serta Mario yang masih labib sebagai seorang remaja yang belum dapat mengartikan sebuah hubungan, kali ini Kecebonggg akan menampilkan cerita dari sisi sang Eksekutif Man yang berpenampilan sempurna dengan kehidupannya di dunia yang sangat Glamour dan dipenuhi oleh harta berlimpah, sangat berbeda dari dua tokoh sebelumnya. Itulah Marchel, mau tau ceritanya... yuk langsung saja kita baca sama-sama.
Free me bagian tiga klik di sini
Marchel memutar-mutar gelas minuman di meja dengan sebelah tangan kirinya
sambil melirik kearah meja lain di depannya. Terlihat seorang cowok yang
memiliki postur tubuh yang agaknya lebih besar, dan tinggi darinya sedang
menikmati musik juga di pub ini. Pikiran jeniusnya berputar mencari
cara untuk mendekatinya.
Pub yang lumayan berkelas itu hanya terdapat beberapa orang saja. Musik
jazz yang mengalun seakan menambah keinginannya mendekati cowok tersebut.
“Hai..., boleh saya duduk disini ?. Ehm… lagi nyari teman bincang…” tanya Marchel dengan penuh percaya diri.
“Please…” jawab cowok itu.
Dari remang-remang suasana lampu pub, terlihat wajah ganteng dengan dagunya
yang tegar, dan bibirnya yang tipis membuat Marchel menelan ludah
beberapa kali. Umurnya kira-kira dua atau tiga tahun lebih tua dari
Marchel
“Saya Marchel…. Kamu?” Tanya Marchel sesaat setelah mengambil ancang-ancang membuka pembicaraan.
“Haris…” jawabnya singkat.
“Sering ke pub ini ya? Kok baru kali ini kelihatan?” tanya Marchel lagi.
“Owh… aku baru saja back dari Amrik. So many things to do there so.. aku
percayain pub ini to someone untuk dikelola…” jawabnya dengan bahasa
indonesianya yang kaku.
“hemm… ternyata pemilik pub…” kata Marchel sambil berdiri. “Maaf ya udah mengganggu…”
“Owh... it’s ok. Please, duduk lagi deh…Aku juga sedang suntuk…. What
would you like to drink? Nanti aku yang traktir…” katanya ramah kepada Marchel.
Yes, tahap pertama selesai, batin Marchel. Korbannya mulai masuk perangkap. Tinggal dilanjutkan.
“Red wine, please..” kata Marchel kepada waiter yang mendekat.
“So, kamu sering datang ke pub ini ya? What do you think about all services pub ini?” Tanya Haris menatap Marchel.
“Good… very good... Aku suka suasana disini…very classics..” kata Marchel sambil mengambil minuman yang di sajikan oleh waiter.
“Aku yang design dekorasi pub ini. Memang sengaja dibuat classic… ” Kata
Haris dengan semangat setelah tau lawan bicaranya mempunyai selera yang
sama dengannya.
“Amazing… cita rasa yang tinggi…” kata Marchel memuji membuat wajah Haris memerah di suasana remang pub itu.
Marchel melihat kearah Haris yang kini terdiam sambil memandangnya. Jari
telunjuk dan jari tengahnya mengetuk-ngetuk pinggiran gelasnya. Marchel
tahu, dia memikirkan sesuatu untuk ditanyakan tapi canggung.
“Aku datang kesini selalu sendirian, kok… itu yang mau ditanyakan, bukan?”
kata Marchel yang membuat Haris terkejut. Matanya penuh dengan rasa
kagum memandang wajah Marchel lekat-lekat dibalik remang.
“wow!...Perfect…. You can read my mind… clever!!” kata Haris memuji.
Kini terlihat mereka mulai berbincang dengan serius. Mulai dari hobby
sampai kegiatan masing-masing. Sesekali mereka tertawa bersama. Tak
terasa malam semakin larut, dan seakan-akan Haris tidak rela jika mereka
harus berpisah malam ini.
“Kalau gak keberatan, kita bisa lanjutkan bincang-bincang kita ke rumahku… “ kata Haris.
“jangan kuatir… aku tinggal sendiri, kok…” sambungnya ketika Marchel terlihat ragu.
“Ok. “ jawab Marchel singkat.
Dan malam itu mereka memutuskan melanjutkannya di rumah Haris. Marchel
tersenyum puas sambil menyertir mobilnya mengikuti mobil Haris dari
belakang. Jam menunjukkan pukul 2:00 dini hari. Dingin udaranya, tapi
Marchel merasa hangat karena keinginannya bakal tercapai.
Marchel menatap map transparan di kursi mobil disampingnya. Terlihat
biodata, foto-foto dan catatan mengenai pimpinan perusahaan yang selama
ini diincarnya. Proyek milyaran bisa dihasilkan dari perusahaan asing
itu.
Haris Handono,
Presiden Direktur.
Marchel tersenyum lagi sambil menatap kedepan. Didepannya, calon
korbannya sedang melaju tanpa bisa mengetahui rencana Marchel. Bagai seekor anak ayam yang bahagia bertemu seekor elang kelaparan yang dikira induknya. Tatapan penuh arti tersirat pada sorot mata, dan senyuman yang tersungging di wajah Marchel. This my world.
Bersambung....
Meonggoblog.blogspot.com Thanks to Everyone to came in our Kingdom.

Sekarang rajin baca Selokan gara-gara Cerbungnya yang ini..., ceritanya bener-bener keren, kata-kata penyampaiannya mudah di mengerti, tapi teaste dari ceritanya kena banget... Kecebonggg sering-sering di lanjutin ya... plisss jgn seminggu sekali..., sehari tiga kali kayak minum obat juga boleh.... hehehhehehehe aku suka banget cerita yang ini.
ReplyDeleteHehehehe... makasih atas komentarnya, kecebong jadi semangat nulisnya nie, tapi gak mungkin juga sehari tiga kali, mungkin nanti bisa di percepat tayangnya menjadi seminggu 2 atau 3 kali, cocok gak... nie Seloker
ReplyDelete