Pages

Pages - Menu

6.06.2012

Urban Love Story : Free me Prolough - Antara Tiga Cerita.



Mulai dari sini, kita para Penghuni Selokan akan menyuguhkan segala kisah yang dibawa oleh para pengunjung gorong-gorong pembuangan air, tempat Selokan Kingdom berada. selaga cerita yang menggambarkan Realita kehidupan sekitar kita. di awali oleh Free me karya MarvelBlue yang akan sedikit di perhalus, namun tidak akan meninggalkan garis besar, dan keindahan untaian kata dari MarvelBlue. Free me adalah Kisah Epic yang menceritakan tiga tokoh nyata dunia metro dengan latar ekonomi, karakteristik, status sosial, dan kehidupan yang berebeda. Namun takdir, dan beberapa peristiwa dimasa lalu, dan masa sekarang, akan memaksa mereka untuk kembali bertemu, kembali merajut masa depan sesuai dengan keputusan mereka masing-masing. Seperti apa takdir yang akan menarik mereka dalam satu kisah, dari pada penasaran ayo baca dulu Prolougnya.

Selamat Membaca :

Rekomendasi : Baca Ceritanya Sambil dengerin lagu Cinta Terlarang Ost Arisan versi mana aja pun jadi. oke.



MARIO

Mario mengelak kesamping sambil melindungi kepala, dan wajahnya dari hiasan kayu yang dilemparkan ayahnya.

“Ayo jawab….!!!!!!”

Teriakan ayah Mario membuat Mario bergetar sesaat. Ia tak berani memandang wajah ayahnya yang baru kali ini begitu menakutkan.

“Apa yang kau lakukan dengan gambar-gambar dan video lelaki telanjang di komputer kamu!!!......”

“A-aku….”

Mario tak bisa meneruskan perkataannya. Diremasnya celana sekolahnya menahan ketakutannya.

“Kamu banci, ya?.......” Bentak ayahnya lagi sambil mencengkram lehernya.

“Ngg…nggak pa…”

“Lalu apa maksudnya ini semua?...Apa?!!” Tanya ayahnya sambil mendorong kepalanya

“Aduh….sakit, pa…”

Plakkkk!!!!!
Sebuah tamparan keras mengenai bibirnya. Mario terhuyung kebelakang memegang bibirnya yang berdarah sampai dia terdesak di sudut kamarnya. Terduduk disitu. Dipandangnya ibunya yang hanya bisa melihat dari pintu kamar sambil menangis tanpa bisa mencegah apa yang baru saja terjadi.

“Rio bukan banci, pa…..ma….. Rio cuman suka lelaki aja… cuman itu… “ kata Mario tak jelas karena bibirnya yang membengkak.

“Ya Tuhan…. Hukuman apa yang kamu berikan pada keluarga kami.. hingga anak kami satu-satunya…. Ternyata seorang….ahhh….”

Ayahnya kemudian berlalu dari kamarnya diikuti ibunya. Mario yang masih belum percaya apa yang terjadi masih terduduk disudut ruangan.

Kini keluarganya telah tahu keberadaan dirinya sebagai seorang gay. Dan ternyata membuat mereka murka. Tidak seperti yang diharapkannya bahwa keluarganya bisa memaklumi keadaannya, dan bisa menerima kenyataan.

Mario mengambil beberapa potong pakaian, dan memasukkannya kedalam tas sekolahnya. Membuka jendela kamarnya sambil berbalik sesaat memandang kamarnya yang mungkin tak akan pernah dilihatnya lagi.

Dari jauh dia memandang rumahnya yang sudah 17 tahun ditempatinya. Terlihat di halaman rumahnya seorang anak berumur 6 tahun yang berlarian menendang bola diikuti ayahnya dari belakang.

“Ayo…. Kejar bolanya…. Besar nanti Rio pasti jadi pemain bola terkenal…”

“Rio ga bisa… Rio capek…. Papa aja yang nendang bolanya…”

Mario berbalik menghadap jalan raya. Melangkah dengan lesu.

“Maafin Rio, pa… udah ngecewain mama dan papa… Rio gak bisa lagi jadi anak impian mama dan papa…”

Mario melangkah semakin lama semakin cepat. Mengikuti arah matahari yang mulai terbenam.

DIMAS

Setelah diturunkan dari mobil patroli polisi, mereka bertiga, Dimas dan kedua temannya seprofesi digiring keruangan pemeriksaan. Terlihat kedua temannya menangis.

“Nih mereka bertiga… urus saja. Kedapatan melakukan prostitusi dikawasan yang dilarang…” Kata polisi yang menggiring mereka.

Mereka berdiri berjejer di depan meja. Hanya Dimas yang berani memandang petugas yang akan mengintrogasi mereka.

“Penjarakan aja mereka dulu… besok di interogasi….” Kata polisi penyidik.

“Waaaa….. jangan pak… pliss… jangan penjarakan kami…” teriak temannya yang satu. Yang satunya lagi berteriak menangis. Dimas memandang tajam kearah penyidik.

“Mohon dikasih pembinaan saja pak….. urusan administrasi kami bersedia…” Kata Dimas tegas.

“I-iya pak… mohon dibantu…. Kami janji… gak akan dagangan lagi disitu…” kata temannya.

“Berapa, Pak?” tanya temannya yang satunya.

“Berapa yang kalian mampu?” tanya sang penyidik. Dimas dan kedua temannya berunding.

“ Kami hanya punya Tiga, pak….”

“Tiga apa?” tanya penyidik itu lagi.

“Tiga ratus rebu pak….” Kata Dimas. Kedua temannya hanya punya masing-masing lima puluh ribu. Sisanya Dimas ambil dari simpanan untuk uang pangkal sekolah adiknya yang masuk SMP. Rencananya mau dibelikan baju seragam, dan perlengkapan sekolah adiknya.

“Hahaha……… kalian becanda ya?” Polisi penyidik itu tertawa.

“Kalian pasti sudah mendapat penghasilan banyak, kan? Untuk penangguhan hukuman saja gak cukup segitu…. Untuk kalian bertiga harusnya 3 ikat (juta maksudnya).”
Dimas dan kedua temannya memucat.

“Ya, sudah… kalian satu persatu harus mengisi BAP (Berita acara penangkapan). Yang lain tunggu diluar. setelah itu kalian nginap disini aja malam ini. Nanti kita bicarakan lagi besok…”

Kedua temannya kembali histeris. Dimas kini sendirian bersama penyidik.

“Boleh saya duduk, pak?” Tanya Dimas.

“Silahkan..”

Dimas duduk sambil membetulkan letak roknya yang robek waktu kejar-kejaran sama polisi tadi. Dimas menyalahkan dirinya yang berpakaian seperti ini lagi. Sebenarnya dia tidak sissy. Dia bukan waria yang suka berpakaian wanita. Dia sebenarnya seorang lelaki tampan yang baru saja dipecat karena alasan pengurangan karyawan hanya karena dia tidak mempunyai ketrampilan seperti karyawan lain. Sebulan yang lalu dia diterima bekerja di salon. Karena tergiur ajakan teman di salon, dia bersedia menjalani profesi seperti ini, karena bisa menghasilkan uang dengan cepat.

“Maafin kakak harus berpakaian seperti ini, dik….” Kata Dimas waktu dilihat adiknya ketika dia memulai ‘profesi’ barunya. Adik lelakinya hanya mengangguk mengerti.

“Kalo kakak udah ngumpulin uang, kita bikin usaha warung…” kata Dimas sambil memeluk adiknya.

Dimas merupakan sumber penghidupan mereka berdua. Orangtua mereka sudah 3 tahun meninggal kecelakaan. Dan parahnya, ayahnya meninggalkan utang yang lumayan banyak sehingga mereka harus merelakan rumahnya untuk disita bank. Kini mereka berdua harus hidup dari kosan yang satu ke kosan yang lain.

MARCHEL

“Dengan teknik promosi seperti yang saya jelaskan tadi, ditambah lagi dengan selebaran dan poster yang saya presentasikan tadi, saya yakin kita bisa memenangkan konsumen hingga 300% dari sebelumnya..” Kata Marchel menjelaskan.

“Tapi pak….. apa anda yakin dengan teknik promosi seperti itu bisa bersaing dengan produk yang sama lainnya yang sudah terkenal duluan?..” tanya direktur perusahaan kliennya. Anggota direksi yang lain juga mengangguk penuh tanda tanya.

Marchel mematikan laptopnya memasukkannya dalam tas. Memandang kearah dewan direksi perusahaan itu.

“Kalau bapak-bapak sekalian meragukan keahlianku. Silahkan mencari konsultan yang lain. Dan kalau saya salah memprediksi, saya akan mengganti sarapan J-CO saya dengan makan gado-gado di emperan.”

Marchel tersenyum kearah mereka.

“Silahkan menghubungi saya lagi kalau sudah memutuskan menerima. Oh, ya… besok sampai bulan depan saya sibuk sekali. jadi kesempatan hanya sampai besok. Sebelum saya menjual ide saya ke perusahaan saingan bapak-bapak sekalian… terima kasih.. selamat siang…”

Dengan gagahnya Marchel melangkah keluar ruangan. Ruangan terdengar gaduh.

Dengan penampilan seperti itu tidak ada seorangpun yang mengira bahwa umurnya baru 25 tahun. Dan baru 3 tahun dia menggeluti dunia Advertising. Otaknya yang cemerlang dan pintar berdiplomasi membuatnya nomor 1 di perusahaannya. Dan gaji 15 juta perbulan memang sepadan dengan pendapatan yang dihasilkannya untuk perusahaan.
Dan tentu saja penampilan dan ketampanannya membuatnya selalu berhasil memenangkan hati klien.

Baru saja Marchel menuruni tangga gedung itu terdengar bunyi HP. Marchel tersenyum penuh kemenangan.

“Ya, hallo…..”

“Kami sudah memutuskan… menerima proposal yang bapak Marchel ajukan…. Silahkan menandatangani kontraknya di ruangan saya besok pagi..”

“Baik,pak… terima kasih…” kata Marchel menutup pembicaraan.

“Yesss…..!!! It’s a piece of cake…” katanya sambil melompati tangga gedung menuju Opel Blazernya yang diparkir di depan gedung. 

 Bersambung....


Meonggoblog.blogspot.com Thanks to Everyone to came in our Kingdom.

No comments:

Post a Comment