
Mulai dari sini, kita para Penghuni Selokan akan menyuguhkan segala kisah yang dibawa oleh para pengunjung gorong-gorong pembuangan air, tempat Selokan Kingdom berada. selaga cerita yang menggambarkan Realita kehidupan sekitar kita. di awali oleh Free me karya MarvelBlue yang akan sedikit di perhalus, namun tidak akan meninggalkan garis besar, dan keindahan untaian kata dari MarvelBlue. Free me adalah Kisah Epic yang menceritakan tiga tokoh nyata dunia metro dengan latar ekonomi, karakteristik, status sosial, dan kehidupan yang berebeda. Namun takdir, dan beberapa peristiwa dimasa lalu, dan masa sekarang, akan memaksa mereka untuk kembali bertemu, kembali merajut masa depan sesuai dengan keputusan mereka masing-masing. Seperti apa takdir yang akan menarik mereka dalam satu kisah, dari pada penasaran ayo baca dulu Prolougnya.
Selamat Membaca :
Rekomendasi : Baca Ceritanya Sambil dengerin lagu Cinta Terlarang Ost Arisan versi mana aja pun jadi. oke.
MARIO
Mario mengelak kesamping sambil melindungi kepala, dan wajahnya dari hiasan kayu yang dilemparkan ayahnya.
“Ayo jawab….!!!!!!”
Teriakan ayah Mario membuat Mario bergetar sesaat. Ia tak berani memandang wajah ayahnya yang baru kali ini begitu menakutkan.
“Apa yang kau lakukan dengan gambar-gambar dan video lelaki telanjang di komputer kamu!!!......”
“A-aku….”
Mario tak bisa meneruskan perkataannya. Diremasnya celana sekolahnya menahan ketakutannya.
“Kamu banci, ya?.......” Bentak ayahnya lagi sambil mencengkram lehernya.
“Ngg…nggak pa…”
“Lalu apa maksudnya ini semua?...Apa?!!” Tanya ayahnya sambil mendorong kepalanya
“Aduh….sakit, pa…”
Plakkkk!!!!!
Sebuah tamparan keras mengenai bibirnya. Mario terhuyung kebelakang
memegang bibirnya yang berdarah sampai dia terdesak di sudut kamarnya.
Terduduk disitu. Dipandangnya ibunya yang hanya bisa melihat dari pintu
kamar sambil menangis tanpa bisa mencegah apa yang baru saja terjadi.
“Rio bukan banci, pa…..ma….. Rio cuman suka lelaki aja… cuman itu… “ kata Mario tak jelas karena bibirnya yang membengkak.
“Ya Tuhan…. Hukuman apa yang kamu berikan pada keluarga kami.. hingga anak kami satu-satunya…. Ternyata seorang….ahhh….”
Ayahnya kemudian berlalu dari kamarnya diikuti ibunya. Mario yang masih
belum percaya apa yang terjadi masih terduduk disudut ruangan.
Kini keluarganya telah tahu keberadaan dirinya sebagai seorang gay. Dan
ternyata membuat mereka murka. Tidak seperti yang diharapkannya bahwa
keluarganya bisa memaklumi keadaannya, dan bisa menerima kenyataan.
Mario mengambil beberapa potong pakaian, dan memasukkannya kedalam tas
sekolahnya. Membuka jendela kamarnya sambil berbalik sesaat memandang
kamarnya yang mungkin tak akan pernah dilihatnya lagi.
Dari jauh dia memandang rumahnya yang sudah 17 tahun ditempatinya.
Terlihat di halaman rumahnya seorang anak berumur 6 tahun yang berlarian
menendang bola diikuti ayahnya dari belakang.
“Ayo…. Kejar bolanya…. Besar nanti Rio pasti jadi pemain bola terkenal…”
“Rio ga bisa… Rio capek…. Papa aja yang nendang bolanya…”
Mario berbalik menghadap jalan raya. Melangkah dengan lesu.
“Maafin Rio, pa… udah ngecewain mama dan papa… Rio gak bisa lagi jadi anak impian mama dan papa…”
Mario melangkah semakin lama semakin cepat. Mengikuti arah matahari yang mulai terbenam.
DIMAS
Setelah diturunkan dari mobil patroli polisi, mereka bertiga, Dimas dan
kedua temannya seprofesi digiring keruangan pemeriksaan. Terlihat kedua
temannya menangis.
“Nih mereka bertiga… urus saja. Kedapatan melakukan prostitusi dikawasan yang dilarang…” Kata polisi yang menggiring mereka.
Mereka berdiri berjejer di depan meja. Hanya Dimas yang berani memandang petugas yang akan mengintrogasi mereka.
“Penjarakan aja mereka dulu… besok di interogasi….” Kata polisi penyidik.
“Waaaa….. jangan pak… pliss… jangan penjarakan kami…” teriak temannya
yang satu. Yang satunya lagi berteriak menangis. Dimas memandang tajam
kearah penyidik.
“Mohon dikasih pembinaan saja pak….. urusan administrasi kami bersedia…” Kata Dimas tegas.
“I-iya pak… mohon dibantu…. Kami janji… gak akan dagangan lagi disitu…” kata temannya.
“Berapa, Pak?” tanya temannya yang satunya.
“Berapa yang kalian mampu?” tanya sang penyidik. Dimas dan kedua temannya berunding.
“ Kami hanya punya Tiga, pak….”
“Tiga apa?” tanya penyidik itu lagi.
“Tiga ratus rebu pak….” Kata Dimas. Kedua temannya hanya punya
masing-masing lima puluh ribu. Sisanya Dimas ambil dari simpanan untuk
uang pangkal sekolah adiknya yang masuk SMP. Rencananya mau dibelikan
baju seragam, dan perlengkapan sekolah adiknya.
“Hahaha……… kalian becanda ya?” Polisi penyidik itu tertawa.
“Kalian pasti sudah mendapat penghasilan banyak, kan? Untuk penangguhan
hukuman saja gak cukup segitu…. Untuk kalian bertiga harusnya 3 ikat
(juta maksudnya).”
Dimas dan kedua temannya memucat.
“Ya, sudah… kalian satu persatu harus mengisi BAP (Berita acara
penangkapan). Yang lain tunggu diluar. setelah itu kalian nginap disini
aja malam ini. Nanti kita bicarakan lagi besok…”
Kedua temannya kembali histeris. Dimas kini sendirian bersama penyidik.
“Boleh saya duduk, pak?” Tanya Dimas.
“Silahkan..”
Dimas duduk sambil membetulkan letak roknya yang robek waktu
kejar-kejaran sama polisi tadi. Dimas menyalahkan dirinya yang
berpakaian seperti ini lagi. Sebenarnya dia tidak sissy. Dia bukan waria
yang suka berpakaian wanita. Dia sebenarnya seorang lelaki tampan yang
baru saja dipecat karena alasan pengurangan karyawan hanya karena dia
tidak mempunyai ketrampilan seperti karyawan lain. Sebulan yang lalu dia
diterima bekerja di salon. Karena tergiur ajakan teman di salon, dia
bersedia menjalani profesi seperti ini, karena bisa menghasilkan uang
dengan cepat.
“Maafin kakak harus berpakaian seperti ini, dik….” Kata Dimas waktu
dilihat adiknya ketika dia memulai ‘profesi’ barunya. Adik lelakinya
hanya mengangguk mengerti.
“Kalo kakak udah ngumpulin uang, kita bikin usaha warung…” kata Dimas sambil memeluk adiknya.
Dimas merupakan sumber penghidupan mereka berdua. Orangtua mereka sudah 3
tahun meninggal kecelakaan. Dan parahnya, ayahnya meninggalkan utang
yang lumayan banyak sehingga mereka harus merelakan rumahnya untuk
disita bank. Kini mereka berdua harus hidup dari kosan yang satu ke
kosan yang lain.
MARCHEL
“Dengan teknik promosi seperti yang saya jelaskan tadi, ditambah lagi
dengan selebaran dan poster yang saya presentasikan tadi, saya yakin
kita bisa memenangkan konsumen hingga 300% dari sebelumnya..” Kata
Marchel menjelaskan.
“Tapi pak….. apa anda yakin dengan teknik promosi seperti itu bisa
bersaing dengan produk yang sama lainnya yang sudah terkenal duluan?..”
tanya direktur perusahaan kliennya. Anggota direksi yang lain juga
mengangguk penuh tanda tanya.
Marchel mematikan laptopnya memasukkannya dalam tas. Memandang kearah dewan direksi perusahaan itu.
“Kalau bapak-bapak sekalian meragukan keahlianku. Silahkan mencari
konsultan yang lain. Dan kalau saya salah memprediksi, saya akan
mengganti sarapan J-CO saya dengan makan gado-gado di emperan.”
Marchel tersenyum kearah mereka.
“Silahkan menghubungi saya lagi kalau sudah memutuskan menerima. Oh, ya…
besok sampai bulan depan saya sibuk sekali. jadi kesempatan hanya sampai
besok. Sebelum saya menjual ide saya ke perusahaan saingan bapak-bapak
sekalian… terima kasih.. selamat siang…”
Dengan gagahnya Marchel melangkah keluar ruangan. Ruangan terdengar gaduh.
Dengan penampilan seperti itu tidak ada seorangpun yang mengira bahwa
umurnya baru 25 tahun. Dan baru 3 tahun dia menggeluti dunia
Advertising. Otaknya yang cemerlang dan pintar berdiplomasi membuatnya
nomor 1 di perusahaannya. Dan gaji 15 juta perbulan memang sepadan
dengan pendapatan yang dihasilkannya untuk perusahaan.
Dan tentu saja penampilan dan ketampanannya membuatnya selalu berhasil memenangkan hati klien.
Baru saja Marchel menuruni tangga gedung itu terdengar bunyi HP. Marchel tersenyum penuh kemenangan.
“Ya, hallo…..”
“Kami sudah memutuskan… menerima proposal yang bapak Marchel ajukan….
Silahkan menandatangani kontraknya di ruangan saya besok pagi..”
“Baik,pak… terima kasih…” kata Marchel menutup pembicaraan.
“Yesss…..!!! It’s a piece of cake…” katanya sambil melompati tangga
gedung menuju Opel Blazernya yang diparkir di depan gedung.
Bersambung....
Meonggoblog.blogspot.com
Thanks to Everyone to came in our Kingdom.
No comments:
Post a Comment