Pages

Pages - Menu

6.09.2012

Urban Love Story : Free me Bagian 3. Mario - Gelora masa muda.



Setelah sebelumnya pada bagian dua kita di suguhkan akan kisah Dimas dibalik jeruji, kini saatnya Mario, Seorang pelajar SMU yang terusir dari rumahnya, mulai melewati masa-masa kehidupan remaja disekolahan, yang penuh akan kenakalan, dan Bullying. bagai mana Mario menghadapi segala ejekan tentang dirinya dari para teman-temannya. yuk langsung aja kita baca. Free me bagian 3 :

Baca Free me bagian 2  dikliksini
Rekomendasi : Baca Ceritanya Sambil dengerin lagu Cinta Terlarang Ost Arisan versi mana aja pun jadi. oke.



“Kalo lo mau ganti pakaian, jangan disini deh.. sana di ruangan cewek… dasar homo!!”
hardik Farid dengan pandangan sinis yang menghina.

Mario yang sejak tadi mendengar ocehannya sudah tidak bisa menahan emosinya. Dengan hanya menggunakan celana olah raga tanpa kaos didekatinya farid yang masih berpakaian seragam lengkap. Dengan keras ditariknya kerah seragam Farid dengan tangan kanan dan didorongnya sampai ke dinding ruang ganti.

“Eh… kalo ngomong jangan sembarangan. pakai otak !.” geram mario dengan nada keras.

Tangan kirinya terangkat disamping kepalanya siap memukul. Semua yang ada diruangan itu memandangnya. Memang Mario dikenal dengan lelaki lemah lembut, dan sering diam jika diejek. Tapi kini terlihat lain dengan perlakuannya pada Farid.

“Emang kenapa kalo gue banci, homo, gay atau apa aja julukan lo buat gue..? lo bukan bokap gue, atau siapa-siapa gue… gue mau jadi apa terserah gue.. gue mau dimana saja terserah gue…. Gak ada larangan disini…. Ngerti kan, lo?”

Farid menggenggam cengkraman Mario tanpa bisa berkata apa-apa membuat mario melepaskan tangannya. Dia berjalan keluar dengan menggenggam kaos olahraganya meninggalkan teman-temannya yang berpandangan aneh.

Mario menyelesaikan 5 putaran larinya di garis finish. Terlihat peluh membasahi wajahnya dan sekujur tubuhnya. Diambilnya air minumnya, dan meneguknya beberapa tegukan. Tanpa sadar pandangannya tertuju kearah Farid dan teman-teman gank-nya. Mereka memandang kearahnya dengan pandangan menantang. Ternyata perlakuannya tadi tidak diterima Farid. Mario berjalan kearah mereka.

“Napa lo melototin gue kayak gitu? gak suka perlakuan gue tadi ya?” tanya Mario kearah Farid.
“Lo mau berantem ama gue ya?” tanya Farid. Terlihat teman-temannya memanas-manasi Farid.

Mario tersenyum sambil wajahnya di palingkan kearah guru olah raga yang sedang sibuk mengatur murid-murid yang lain. Belum lagi Mario menatap Farid kembali, dirasakannya dagunya sakit. Ternyata Farid sudah duluan memukulnya. Dengan reflek cepat dibalasnya pukulan Farid dengan pukulan tinju kidalnya yang telak mengenai bibir Farid.

“Aduh…!!!” terdengar teriakan Farid. Teman-temannya yang lain tidak ada yang membantu.

Kini untuk melindungi dirinya Farid menubruk Mario yang memnyebabkan keduanya tersungkur ketanah, keduanya saling bertindihan. Farid menindih Mario sambil memegang kedua tangan Mario. Mario kini kasihan melihat bibir Farid yang mengeluarkan darah. Darah segar yang kemudian menetes jatuh ke pipi Mario. Mario terdiam, dan mulai merasakan berat tubuh Farid yang menindihnya. Selangkangan Farid menekan perutnya membuatnya berdesir aneh. Baru kali ini dia ditindih seseorang. Apalagi seorang pria. Meskipun pria itu sering mengejeknya bahkan menjadi musuhnya.

“Kalian berdua… ke kantor sekarang..” terdengar suara keras guru olahraga mereka yang ternyata melihat keduanya sedang berkelahi.

Farid, dan Mario bangkit. Dengan menahan emosi keduanya berjalan gontai kearah ruangan guru.

“Gara-gara lo gue harus ngebersiin wc ini…..” kata Farid menggerutu.

Terlihat tangannya yang memegang sikat dengan jijik. Mereka berdua memang dihukum untuk membersihkan toilet sekolah yang mahadahsyat kotor, dan baunya.

“Dirumah aja gue gak pernah disuruh kerja. Apalagi kerja ginian…ihhh”

“Hehehe… rasain lo… gue mah sering kerja ginian dirumah. Gak kayak lo, mandi aja dimandiin..” ejek Mario yang sedang membersihkan cermin di wastafel dengan lap yang telah usang.

Lantai belum dibersihkan

“Enak aja…” kata Farid.

“Ya emang enak jadi orang kaya….” Balas Mario. “Sini aku bersiin wc, lo aja yang bersiin lantai dan wastafel…” lanjut Mario menarik sikat dari tangan Farid.

Farid membuka kaos olahraganya yang kotor. Kini terlihat tubuhnya yang sedikit padat sebagai mana tubuh pria diusia belasan saat SMA. Hal tersebut membuat Mario tak berpaling memandangnya dari belakang. Mario teringat majalah, dan gambar-gambar telanjang di komputernya.

“Napa lo mandangin gue? Ihh… Sori ya gue bukan gay..” kata farid yang ternyata menyadari Mario yang memandangnya lekat.

“Gak kok,… gue cuman pingin liat aja luka di bibir lo… apa masih sakit?” tanya Mario mengalihkan pembicaraan.

Farid berbalik kearahnya memperlihatkan dadanya yang mulai bidang, dan perutnya yang cukup rata, hal yang sedikit membuat Mario kembali salah tingkah.

“Luka gini mah gak ada apa-apanya….” Kata Farid sambil memperlihatkan bibirnya kearah Mario.

Mario semakin kehilangan kontrol dirinya.

“Sini gue liat…. Kali aja infeksi…”

Farid mendekatinya sambil ketakutan mendengar perkataan Mario.
Mario mengusap bibir Farid yang kini terlihat seksi dimatanya.

“ah… sakit..” desah Farid sambil memejamkan matanya.

Kini hilang sudah kesadaran Mario. Tanpa pikir panjang lagi Mario membekap bibir Farid dengan bibirnya. Dadanya bergetar aneh. Farid yang kemudian menyadari apa yang dilakukan Mario kini mendorong Mario yang kini telah mendekap leher Farid sambil terus melumat bibir Farid. Wajahnya hendak dipalingkan ke kiri dan kekanan tapi Mario tidak memberinya kesempatan untuk lepas. Kini Farid mulai terdiam entah menikmati ciuman pertamanya atau menyadari bahwa perlawanannya gak ada gunanya karena posisi Mario yang mengunci dirinya dengan tubuh yang lebih besar seperti itu. Setelah beberapa saat kemudian Mario melapaskan lumatannya dengan rasa puas. Farid mengusap mulutnya dengan kaos ditangannya. Wajahnya memerah.

“Apa yang lo lakuin?... dasar gay gila….” Farid kemudian berlalu meninggalkan Mario yang masih tersenyum merasakan kenikmatan berciuman untuk pertama kalinya.

“Fuihhh… ” kata Mario membuang napas pelan sambil memandang kearah cermin. ia sedikit malu akan kenaifan seorang remaja labib yang tidak dapat mengontrol, dan menahan emosi nafsunya.

Ternyata berciuman itu rasanya aneh tapi menyenagkan.

Dengan senyum simpul kecil diwajah manisnya yang bercorak asia, Mario keluar dari dalam toilet yang telah di bersihkan dengan menenteng sebuah ember berisikan sikat, dan lap kotor. wajahnya cerah bagaikan diterpa matahari di siang hari. batinnya tersenyum. Apalagi, setelah ini pasti Farid tidak akan berani lagi mengganggunya, dan mengejeknya.


Bersambung

Meonggoblog.blogspot.com Thanks to Everyone to came in our Kingdom.

No comments:

Post a Comment