Setelah sebelumnya memperlihatkan kehidupan dari sisi ketiga tokoh utama free me, kali ini Kecebong coba untuk mempertemukan salah satu dari ketiga tokoh dengan tokoh lainnya. dan intrik serta jalan kehidupan mereka yang saling berkaitan akan segera dimulai dari sini, sudah siap semua. ayo segera kita baca saja cerita seru free me yang bikin penasaran ini :
baca free me bagian 4 klik disini
Dimas memandang kedua temannya yang duduk bersandar di dinding kamar, wajahnya lesu. terlihat mereka berdua memikirkan sesuatu.
“Sudahlah…. Jangan banyak mikir, ntar jadi stress…” kata Dimas menghibur dengan senyum khasnya.
“Nih, jatah makanan kalian lom dimakan sejak pagi. Ntar jadi busuk lho….” sambungnya dengan menyerahkan dua bungkusan nasi jatah mereka berdua.
Dimas membuka bungkusan nasi jatah makanannya yang hanya sebesar kepalan
tangan orang dewasa. Terlihat potongan tempe goreng, sambal, dan kangkung
rebus seperti biasanya. Bau yang tidak enak tercium dari kangkung yang
direbus itu. Mulai basi. Namun itu tak membuat urung niat Dimas untuk melahap habis
makanannya. Dimas makan sambil diam memikirkan adiknya. Sudah hari ke-2
mereka ditahan.
Berbeda dengan kedua temannya, Dimas kelihatan tenang menghadapi
kenyataan mereka harus ditahan 2 hari ini. Dimas terlihat leluasa bergaul dengan para
tahanan yang lain. Mulai dari pencopet, pembunuh, pemerkosa, dan
penjahat kelas kakap lainnya yang sering keluar masuk tahanan. Ada
diantara mereka yang masih usia belia. Mereka dengan bangga menceritakan
pengalaman mereka masing-masing plus ‘tip and trik’ bagaimana melakukan
kejahatan mereka. Hal yang sedikit membuat Dimas mengerutkan kening, dan memaksana tersenyum garing.
Tapi, satu hal yang paling parah, mereka semua harus mandi telanjang di tempat terbuka
bersama-sama di ruangan mandi. Sebuah bak penampungan air yang besar,
hanya diisi air waktu mandi saja, dan tengah malam. Jadi mereka harus
mencuci, dan mandi dengan cepat. Dimas memilih melakukan semua itu di
tengah malam saja, karena air jalan nanti jam 12 malam.
Kini kedua teman Dimas terlihat stress dengan keadaan ruangan tahanan
itu. Mereka belum menyentuh makanan dari pagi. Mereka berdua memandangi
langit-langit, dan dinding kamar yang dipenuhi coretan nama para bekas
tahanan yang memenuhi dinding. Kedua temannya terlihat bergidik
memikirkan seandainya mereka harus disitu selama-lamanya. Keadaan ruangan
tahanan memang bisa membuat orang depresi. Terasa sekali kebebasan
menjadi hal yang begitu berarti disini.
“Kapan kita bisa bebas, mas…?” tanya teman Dimas dengan tatapan kosong.
“Gue ga bisa tidur semalaman. Punggung sakit karna tidur di lantai beton seperti ini. Mana banyak penjahatnya lagi disini….”
“Stt… jangan ngomong gitu. kita juga sama statusnya disini. Tenang aja,
ntar juga dibebasin.. lo kira cuman lo aja yang pingin bebas?” tukas
Dimas pelan kepada kedua sahabatnya yang sedang mengeluh.
Prittttt!!!!!!
“Apelll!!!….. kumpul semua…” teriak pak Lurah keras.
Dengan hitungan ke-5 terlihat semua telah berdiri berjejer sesuai dengan
nomor urut. Kemudian Kepala tahanan bersama 2 polisi petugas tahanan
mulai memeriksa para tahanan. Dipanggilnya satu-persatu nomor tahanan
yang dibalas dengan teriakan tahanan yang dipanggil. Setelah dipanggil,
tahanan harus jongkok.
“Apakah semuanya sudah mendapatkan jatah makanan? Air?” tanya pak kepala tahanan.
‘Sudah pak……” terdengar teriakan beberapa tahanan.
“Bagus… apakah ada keluhan lain? Apa ada petugas yang menyusahkan kalian? Apakah ada perlakuan yang tidak bagus sesama tahanan?”
“Tidak, pak….” Jawab beberapa tahanan.
Kepala tahanan itu berjalan kearah Dimas, dan dua temannya yang berada di baris paling belakang. Lalu mendekati Dimas.
“Aku sudah menerima SP3 kalian. Kalian akan bebas malam ini….” Katanya pelan kearah Dimas.
Dimas memandangnya dengan tidak percaya. Dimas tau, kalau kepala tahanan
itu membantu mereka mempercepat masa tahanannya. Matanya berkaca-kaca.
“Terima kasih, pak….” Kata Dimas sambil tersenyum. Bibirnya bergetar.
Malam itu tepat seperti yang dijanjikan Dimas, dan kedua temannya berdiri menghadap pak kepala tahanan. Mereka
diminta untuk menandatangani surat pembebasannya. Terlihat wajah cerah
mereka.
“Jangan sampai kalian kesni lagi, ya….” Kata pak kepala tahanan itu berwibawa.
“Iya pak…. Siapa yang mau kesini lagi? Tobat deh pak….Ihhhh ngeri.” tukas teman Dimas dengan centil.
“Terima kasih banyak, pak…” kata mereka bertiga.
“Kalian pergi duluan, aku mau bicara dengan pak kepala..” bisik Dimas kepada kedua temannya.
Kedua temannya kemudian pamit keluar. Kini tertinggal Dimas, dan pak kepala.
“Apa yang saya bisa lakukan untuk membalas kebaikan bapak?” tanya Dimas sambil menunduk.
Pak kepala itu berdiri dari kursinya mendekati Dimas. Dipegangnya pundak
Dimas. Tangan yang satunya mengeluarkan kartu nama dari saku kemejanya,
dan meletakkannya ke tangan Dimas.
“Telepon saya kalau kamu membutuhkan sesuatu.. “ Katanya lembut berwibawa.
Diambilnya sesuatu lagi dari saku celananya. Diletakkannya juga ke tangan Dimas.
“Ini untuk membantu meringankan kebutuhanmu, dan adikmu. Pergunakan baik-baik…”
“Pak… ini tidak bisa saya ter…” Kata dimas menampik amplop yang diletakkan ke tangannya.
“Anggaplah untuk membayar jasa pijatanmu yang ampuh…” potongnya sambil tersenyum.
Kini Dimas tidak lagi bisa menahan rasa terima kasihnya. Dipeluknya
bapak kepala tahanan dengan erat. Kini Dimas bisa merasakan kehangatan
tubuh kekar dengan seragam polisinya yang kini memeluknya erat juga.
Dimas merasakan kehangatan seorang pria bukan seperti pria-pria yang
dilayaninya selama ini. Pelukan seorang pria sejati yang menenangkan
batinnya. Sayang hanya sesaat dia merasakan hal itu.
Dimas meninggalkan kantor polisi dengan perlahan. Matanya yang belum
terbiasa melihat sinar matahari terang setelah berada dalam tahanan selama 2
hari, membuatnya susah untuk menyebrangi jalan.
Ciittttt!!!!!!! Terdengar kendaraan berhenti dengan tiba-tiba. Jantung
Dimas hampir terhenti ketika disadarinya bahwa dia hampir saja
tertabrak. Astaga.
“Sialan kamu… memangnya kamu kira ini jalanan milik nenek moyangkamu? Seenaknya aja nyebrang….” Teriak seorang pria bersetelan mewah dari dalam mobil.
Dengan gusar dilihatnya arloji guess-nya yang telah menunjukkan hampir pukul 9. Dia bakal
kehilangan proyeknya dengan perusahan air mineral yang didapatnya minggu
kemarin. Sial.
“Maaf… “ kata Dimas sambil menunduk. Dengan cepat dia berjalan terus ke seberang tanpa membalas perkataan kasar pria tersebut.
Sesaat pria pemilik mobil terpaku setelah melihat sosok Dimas yang berjalan melaluinya ketepi jalan. Sesuatu yang kemudian muncul dari hatinya, kenangan yang lama menghilang.
“Dimas…..” terdengar suara pria pemilik mobil pelan.
“Dimas!!!!!!!!!!....” kali ini ia berteriak. dengan cepat pria itu keluar dari mobilnya setelah diparkir di tepi jalan dan mengejar sosok dimas yang telah menjauh.
Dimas menghentikan langkahnya. Terdiam meresapi suara yang baru saja
memanggilnya. Suara itu pernah didengarnya beberapa tahun lalu. Tapi
Dimas tidak akan pernah lupa, karena suara itu pernah dicintainya….
"Marchel..." ujar Dimas pelan ketika menoleh, dan mendapati sosok pria sang pemilik mobil sedang mengejarnya dikejauhan. "Marchel...."
Bersambung...
Meonggoblog.blogspot.com
Thanks to Everyone to came in our Kingdom.

No comments:
Post a Comment